Menjaga persepsi dari apa yang terlihat

Kisah Inspirasi - Menjaga persepsi dari apa yang terlihat

Di dalam kereta ekonomi yang lumayan panas, seorang eksekutif muda menggunakan jas yang elegan dan berdiri diantara desakan penumpang lainnya. Kemudian, ia membuka tablet androidnya yang terlihat lebih besar daripada smartphone pada umumnya.

Kebetulan dia memang sedang melakukan chatting dengan para donatur mengenai dana untuk para korban yang mengalami kebanjiran. Namun, semua penumpang yang menoleh dan melihatnya sedang asyik chat memiliki penilaian yang berbeda-beda. Ntahlah apa yang ada dalam pikiran mereka, mungkin apa kata bathinnya?

Seorang nenek-nenek membatin, “Orang muda jaman sekarang, baru kaya sedikit sudah pamer. Ekonomi baru naik, pamer-pameran apa yang dia punya!”.

Seorang emak-emak membatin, “Semoga saja suami saya tidak seperti dia, norak. Naik kereta kelas ekonomi tapi norak!”.

Seorang gadis ABG membatin, “Orangnya sih keren, tapi nggak deh kalo lihat gayanya. Kenapa juga nggak naik kereta AC kalau disini mainnya begituan?!”.

Seorang pengusaha yang berada di dekatnya membatin, “Kayanya dia orang kaya baru, atau mungkin baru dapat warisan. Andai dia tahu bagaimana susah dan pahitnya kehidupan, nggak akan mungkin dia pamer tablet mahal seperti itu disini!”.

Seorang pemuka agama melirik, “Andainya dia belajar ilmu agama dan memperdalamnya, pasti dia tidak akan sesombong itu. Pamer!”.

Seorang pelajar membatin, “Gue tahu lo kaya, tapi plis deh, gak perlu pamer gitu ke gue. Gue gak butuh style lo yang sok-sok gitu. Kalo emang pengen di akuin, lo silahkan out deh dari sini, terus pindah ke kereta ber-AC. Ill feel gue..!”.

Seorang tuna wisma membatin , “Orang ini terlalu sombong, ingin pamer tapi di depan rakyat kecil!”.

Dan akhirnya, selesailah percakapan melalui chat antara eksekutif muda dengan donatur. Kemudian dia memasukkan kembali tabletnya ke dalam tas. Kemudian, ia membatin, “Alhamdulillah.., akhirnya para donatur bersedia membantu. Alhamdulillah, ini kabar yang sangat baik sekali. Kemudian, ia mengambil secarik tiket di kantong kemejanya. Ada secarik tiket kereta ekonomi.

Dan ia membatin, “Tadi sempat tukar karcis dengan seorang nenek tua yang mau naik kereta sesak ini. Tapi saya nggak tega, dan biarlah nenek itu yang berada di ruangan kereta ber-AC.

Sahabat.., begitu berbahayanya sebuah penghakiman. Sebuah kebaikan, tindakan kasih, sekejap bisa berubah total menjadi sebuah kejahatan hanya karena PERSEPSI kita sendiri. Oleh karena itu, jagalah persepsi kita, tidak perlu di nilai seperti apa yang terlihat semata.

Sumber : Facebook Yusuf Mansur Network

Share and Enjoy

About Andy Febrian 531 Articles
Menyukai dunia web development, Wordpress lovers, writing dan blogging. Simple & apa adanya. Semoga tulisan di atas bermanfaat :)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*