Kisah nyata perjuangan Adik kepada Kakaknya

Kisah Inspirasi Kakak dan AdikDalam sebuah keluarga, kakak beradik memegang peranan yang cukup penting dalam menjadikan sebuah keluarga bagaikan berasa di surga. Saling mengingatkan, mengarahkan, membantu, atau bahkan harus saling berbagi suka maupun duka.

Jika anda merasa telah melakukan hal tersebut, syukurlah. Berarti anda telah menjadi seseorang yang turut menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga anda sendiri. Namun jika sebaliknya, sering cek-cok atau tidak kompak, sebaiknya anda coba baca dan resapi kisah inspirasi yang saya ambil dari Kaskus di bawah ini.

Sebuah kisah nyata mengenai pengorbanan dan perjuangan seorang adik kepada kakaknya. Demi keberhasilan dan kebahagiaan sang kakak, adiknya rela bekerja membanting tulang.

[Baca, resapi, dan biarkan pikiran anda terbawa ke dalam cerita berikut]

Aku adalah Angela, dilahirkan di sebuah desa pegunungan yang sangat terpencil. Setiap harinya orang tuaku membajak tanah yang kuning dan kering dengan membungkukkan punggung mereka ke langit. Aku mempunyai seorang adik yang usianya tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang selalu di pakai oleh gadis-gadis seusiaku, aku selalu mencuri uang lima puluh sen dari laci Ayahku. Ayah mengetahuinya, sambil memegang sebuah tongkat bambu di tangannya lalu beliau menyuruhku dan adikku berlutut di depan tembok. Beliau bertanya, “Siapa yang mencuri uangku?!?”. Aku terpaku dan sangat takut untuk berbicara. Ayah tidak mau tahu siapapun yang mengaku diantara kami berdua dan langsung saja mengatakan, “Baiklah kalau begitu, kalian berdua layak di pukul!”. Kemudian beliau mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba adikku mencengkram tangannya dan berkata, “Aku yang melakukannya, aku yang mencuri uang itu Ayah”. Tongkat panjang itu bertubi-tubi menghantam punggung adikku. Karena sangat marah, Ayah terus-menerus memukulinya sampai kehabisan nafas. Lalu, beliau duduk di atas ranjang batu bata dan memarahi adikku, “Kamu sudah mulai belajar mencuri sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa yang akan datang?! Kamu layak di pukul sampai mati! Dasar kamu pencuri tidak tahu malu!”.

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi dia tidak menitikkan air mata setetespun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, tolong jangan menangis lagi sekarang. Semuanya telah terjadi”. Aku masih selalu membenci diriku karena selalu tidak punya keberanian untuk maju dan mengakuinya. Bertahun-tahun berlalu, tapi kejadian tersebut kelihatan masih seperti baru kemarin. Aku takkan pernah lupa tampang adikku saat ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun, dan aku 11 tahun.

Saat adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus masuk SMA di pusat kabupaten. Dan pada saat yang sama, aku diterima di sebuah Universitas di Provinsi. Malam itu, Ayah berjongkok di halaman, menghisap rokoknya sebatang demi sebatang. Aku mendengar obrolannya dengan Ibu saat itu, “Kedua anak kita menunjukkan hasil yang sangat baik”. Lalu Ibu menghela nafas dan mengusap air matanya yang mengalir, “Lalu, apa gunanya? Bagaimana kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”. Saat itu juga, adikku berjalan ke luar ke hadapan Ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya merasa telah cukup membaca buku”. Seketika itu juga Ayah mengayunkan tangannya dan memukul tepat wajahnya. “Kenapa engkau mempunya jiwa yang begitu keparat lemahnya?! Sekalipun saya harus mengemis di tengah jalan, saya akan menyekolahkan kalian berdua sampai selesai!”. Sesaat itu juga Ayah mengetuk tetangga sebelah rumah untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang terlihat bengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, karena kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini”. Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak melanjutkan ke Universitas. Tidak di duga, keesokan harinya saat subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mulai mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku. Isinya, “Kak, masuk ke Universitas itu tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirim uang”. Aku memegang secarik kertas itu sampai air mataku serasa tak ingin berhenti bercucuran. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun, aku 20.

Dengan uang hasil pinjaman Ayahku ke tetangga sekitar dan uang yang dihasilkan oleh adikku dari mengangkat semen di punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ke tiga (di Universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan “Ada seorang penduduk dari dusun menunggumu di luar sana”. Aku heran kenapa ada seorang dari dusun yang mencariku? Aku segera berlari dan melihat adikku dari kejauhan, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Kenapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”. Dia tersenyum, dan menjawab, “Lihatlah bagaimana penampilanku. Apa kata mereka jika tahu bahwa aku adalah adikmu? Mereka akan mentertawakanmu bukan?”. Aku merasa terenyuh dan air mata mulai membasahi pipiku. Aku menyapu debu-debu dari tubuh adikku semuanya, dan tersekat-sekat aku berkata, “Aku tidak peduli dengan omongan siapapun! Kamu adalah adikku! Bagaimanapun itu penampilanmu”. Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Lalu ia memakaikannya untukku dan menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya, jadi saya pikir kamu juga harus memilikinya satu”. Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi, lalu menarik tubuh adikku ke dalam pelukanku dan menangis, terus menangis. Tahun itu ia berusia 20, dan aku 23.

Saat pertama kali aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah terganti. Dan tiba-tiba kelihatan bersih dimana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan Ibuku. “Ibu, Ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!”. Sambil tersenyum, Ibu menjawab, “Itu adalah adikmu yang pulang lebih awal demi membersihkan rumah ini. Apakah kamu tidak melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu”. Aku segera masuk ke ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, serasa seratus jarum menusukku. Aku mengoleskan obat dan membalut lukanya. Aku bertanya, “Apakah itu sakit?”. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku untuk bekerja, dan…”. Di tengah kalimat itu aku menyuruh ia berhenti bercerita, aku membalikkan wajahku dan air mata keluar tak tertahankan. Saat itu, adikku berusia 23 tahun, dan aku 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Aku dan suamiku sering mengajak orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, saat mereka meninggalkan dusun, mereka tidak tahu harus mengerjakan apa. Adikku juga tidak setuju, dan mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga Ayah dan Ibu disini”. Suamiku menjadi direktur di pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manager di departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel. Dan mendapatkan sengatan listrik hingga masuk Rumah Sakit. Aku dan suamiku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manager? Manager tidak akan pernah melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak pernah mau mendengarkan kami?”. Dengan tampang serius pada wajahnya, ia membela diri terhadap keputusannya, “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja mendapatkan jabatan direktur. Sementara saya, hampir tidak berpendidikan!. Jika saya menjadi manager, berita apa yang akan didapatkan setelah itu?!”. Pipi suamiku mulai dialiri air mata, dan kemudian aku mengatakan sesuatu dengan terpatah-patah, “Tapi kamu kurang berpendidikan itu karena aku!”. “Mengapa membicarakan masa lalu..”, lalu adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26, dan aku 29.

Saat adikku berusia 30, ia menikahi seorang gadis anak petani di dusun. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya. “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?, tanpa berfikir, ia menjawab “Kakakku..”. Sesaat itu juga ia menceritakan kembali sebuah kejadian yang sama sekali tak teringat olehku. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari saya dan kakakku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tangan saya. Kakak saya memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang sangat dingin sampai-sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya”. Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan wajahnya kepadaku. Kata-kata begitu sulit terucap dari bibirku, “Dalam hidupku, aku sangat berterima kasih kepada adikku…”.

Semoga anda dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari kisah nyata yang inspiratif dan mengharukan di atas.

*Picture source : Flickr

  • Facebook
  • Twitter
  • Delicious
  • LinkedIn
  • StumbleUpon
  • Add to favorites
  • Email
  • RSS

Share and Enjoy

About Andy Febrian 531 Articles
Menyukai dunia web development, Wordpress lovers, writing dan blogging. Simple & apa adanya. Semoga tulisan di atas bermanfaat :)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*