Kisah inspirasi Cinta kasih seorang anak kecil pada keluarganya

kisah inspirasi cinta kasih anak kecil pada keluarganya
Image source : mom.me

Saya sedang jalan-jalan di sebuah mall yang kebetulan ada even bazar disana. Langkah saya terhenti ketika mendapati seorang anak kecil yang kira-kira berumur lima tahun sedang berbicara pada kasir di sebuah outlet boneka. Pada saat saya berjalan dan berada tepat di sebelahnya, si kasir bicara pada anak kecil itu, “Maaf ya nak, uang kamu tidak cukup untuk membeli boneka ini”.

Posisi saya yang kebetulan tepat berada di samping mereka, saya melihat anak kecil tersebut sedih dan bertanya pada saya sambil menunjukkan uang recehan yang berada di tangan kanannya, “Paman, apakah benar uang yang aku punya tidak cukup untuk membeli boneka ini?”.

Hati saya terbesit lalu menghentikan langkah untuk melihat harga boneka yang tercantum pada labelnya dan menghitung jumlah uang yang berada dalam tangan anak kecil tersebut. “Sayang.., uang kamu memang benar tidak cukup untuk membeli boneka cantik ini”, jawab saya pada anak tersebut.

Lalu anak kecil tersebut terdiam, di wajahnya terlihat kesedihan yang sangat mendalam sambil memeluk erat boneka tersebut. Saya kembali mendekatkan diri dan bertanya padanya, “Untuk siapa boneka ini kamu beli nak?”.

“Boneka ini adalah sebuah boneka yang paling diinginkan oleh adik perempuanku, dan aku berniat memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya. Aku punya rencana untuk memberikan boneka ini pada Ibu, agar Ibu yang dapat memberikannya langsung kepada adik saya”, kata anak tersebut.

Saya hanya bisa terdiam. Dalam diam, lalu anak tersebut kembali melanjutkan pembicaraannya pada saya, “Aku sangat berharap bisa memberikan boneka ini pada Ibu. Karena kata perawat, Ibu akan pergi untuk bertemu dengan Tuhan. Aku ingin sekali membeli boneka ini dari hasil uang tabunganku ini sebagai hadiah untuk Ibu sekaligus adik perempuanku”, seketika anak tersebut meneteskan air mata.

Saya mulai merasa terharu dan sedih, karena anak tersebut memiliki hati yang sangat mulia. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Anak tersebut melanjutkan perkataannya, “Tadi aku bilang pada Ayah agar dapat menungguku pulang dan membawa sebuah boneka agar Ibu bisa memberikannya langsung pada adik”. Anak tersebut menunjukkan sebuah foto yang berada disakunya, sambil tersenyum diantara matanya yang sayu karena kesedihannya. “Ini foto ibuku, aku ingin berfoto dengan Ibu bersama boneka ini. Agar Ibu bisa menunjukkan foto kami dan berharap adik menjadi sangat senang dan tidak melupakan kami. Aku sayang Ibu, aku sayang adik, aku sayang keluargaku. Tapi Ayah berpesan padaku, bahwa Ibu harus bisa bertemu adik dan memberikan sebuah boneka sebelum kepergiannya bertemu dengan Tuhan”.

Saya hanya diam mematung, tidak dapat berpikir, tidak dapat bergerak, tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi bila saya berada dalam kondisi seperti anak tersebut yang masih memeluk bonekanya sambil meneteskan air mata.

Sambil gemetar, saya berkata, “Nak, apakah kamu yakin kamu benar-benar bisa bertemu Ibu kalau boneka ini sudah dibeli sepulang dari sini?”. “Aku berharap juga seperti itu Paman. Aku ingin memberikan boneka ini pada Ibu sebelum Ibu pergi bertemu Tuhan”, jawab anak tersebut.

Akhirnya, saya tergerak untuk membantunya dan mengeluarkan dua lembar uang dari dompet untuk membantunya agar memiliki boneka tersebut.

Setelah di bayar, anak tersebut tampak sangat senang. Ia berkata, “Terima kasih Tuhan, karena Engkau sudah memberikan aku uang yang cukup untuk memiliki boneka ini”. Kemudian anak tersebut menatapku dengan tatapan yang penuh makna, “Semalam sebelum tidur aku selalu bertanya pada Tuhan apakah aku akan memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini agar Ibu bisa memberikannya pada adikku. Ternyata Tuhan mendengar dan menjawab permintaanku Paman! Bahkan, aku juga ingin punya uang yang cukup untuk membelikan Ibu sebuah mawar putih, tapi aku tidak berani terlalu banyak meminta pada Tuhan. Tapi bagiku sekarang ini cukuplah sebuah boneka dan mawar putih, ini karena karena Ibu sangat menyukai mawar putih”.

Saya mencoba menenangkannya, “Baiklah sayang, meskipun kamu belum bisa membelikan sebuah mawar putih, tapi kamu setidaknya bisa memberikan boneka cantik ini pada Ibumu agar dapat diberikan pada adikmu”. Lalu anak tersebut mengucapkan terima kasih kepada saya lalu berlari menuju pintu keluar mall dan menghilang, kami pun berpisah.

Saat saya melanjutkan jalan-jalan, saya teringat sebuah artikel yang saya baca tadi pagi melalui surat kabar mengenai seorang Bapak yang dalam kondisi mabuk mengalami kecelakaan. Di dalam mobil tersebut terdapat seorang Ibu dan anak gadis kecil. Anak gadis tewas sedangkan Ibunya berada dalam kondisi koma. Saya mulai berpikir apakah ini adalah kejadian yang dialami oleh anak kecil tadi.

Tepat dua hari setelah pertemuan saya dengan anak kecil itu saya kembali membaca surat kabar dan mendapatkan berita bahwa ternyata Ibu yang mengalami koma akibat kecelakaan dua hari yang lalu akhirnya tewas. Saya tidak dapat menahan diri dan bergegas mencari toko bunga untuk membeli seikat mawar putih. Setelah itu, saya mengunjungi rumah duka seperti yang disampaikan oleh surat kabar yang saya baca. Saya hanya berfikir bahwa semua yang dikatakan oleh anak kecil kemarin adalah sebuah permintaan terakhir sebelum ajal menjemputnya. Dengan langkah cepat serta pikiran yang berkecamuk penuh dengan tanda tanya, saya hanya mencoba untuk fokus agar sampai di tujuan.

Sesampainya di rumah duka, saya melihat jenazah yang terdapat sebuah boneka dan mawar putih tepat di atas dadanya. Boneka tersebut sama persis seperti boneka yang di beli oleh anak kecil kemarin. Kemudian saya menghampirinya lebih dekat, saya juga melihat sebuah foto anak kecil bersama Ibunya bersama sebuah boneka tersebut.

Saya hanya bisa diam, merinding, rasanya ingin sekali memutar waktu tepat pada waktu dua hari kemarin. Saya tetap memegang seikat mawar putih dan meninggalkan jenazah tersebut sambil berlinang air mata.

Kisah anak tersebut masih jelas terngiang di telinga saya, masih tersimpan rapi dalam pikiran saya. Saya merasa hidup saya telah berubah, bukanlah seperti apa yang ada seperti cerita dua hari kemarin. Bagi saya sulit rasanya membayangkan bagaimana rasa cinta dan kasih anak tersebut kepada Ibu dan adiknya. Karena ajal telah menjadi jawaban serta kepastian dari semua ini.

Dalam kehidupan ini adakalanya kita harus menghormati, ikut dan penuhi aturan. Jangan sampai orang lain membayar dan menanggung atas kesalahan yang telah anda perbuat. Jangan membuat kesalahan dengan menangguhkan biaya atau hutang yang tidak tergantikan. Jadilah sebagai tangan yang di atas untuk mereka yang sedang berduka dan membutuhkan bantuan.

Notes : Kisah ini bersumber dan saya translate dari moralstories.org sebagai referensi kisah inspiratif yang bisa dijadikan bahan bacaan kita semua.

Baca juga : Kisah perjuangan adik pada kakaknya

About Andy Febrian 532 Articles

Menyukai dunia web development, Wordpress lovers, writing dan blogging. Simple & apa adanya. Semoga tulisan di atas bermanfaat :)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*