Harga siang vs harga malam

Secara sederhananya harga bisa dikatakan sebagai sebuah nilai yang diberikan terhadap suatu barang (objek). Tapi dalam masalah harga, seperti yang kita ketahui terkadang bisa berubah sesuai dengan permintaan, sama halnya pada ketika suatu keadaan, musim atau waktu-waktu tertentu. Itu memang hal yang biasa, seperti dalam pelajaran di sekolah tentang hukum permintaan. Tapi ternyata tidak semua jenis usaha bisa menerapkan prinsip tersebut. Seperti rasa keki saya tentang harga siang & harga malam, ternyata kadang-kadang tidaklah selalu sama. Pasti bingung kan? Harga siang mungkin sudah dapat dimengerti, tapi bagaimana dengan harga malam?

Saya sendiri juga bingung, kenapa harus ada harga malam. Entah karena penjualnya sudah ngantuk, entah karena harga modalnya memang sudah naik, entah karena penjualnya lupa harga, entah karena saya yang blo’on, atau mungkin karena tampang saya yang terlihat seperti tampang orang kaya [narsis]. Tapi pada intinya, mengapa tidak ada konsistensi dalam harga?

Mungkin sebagian dari anda juga pernah ada yang menemukan perbedaan dari harga-harga yang pernah saya alami seperti dalam hal ini. Seperti ketika anda membeli rokok, makanan ringan ataupun minuman. Ketika kita membeli di waktu malam, ternyata harga tersebut berbeda. Misalnya harga rokok merk A biasanya kita beli Rp.8.500,-, dan ketika kita beli di waktu malam (tepatnya tengah malam atau dini hari) ternyata harga tersebut berbeda atau lebih tinggi dari harga biasanya, dan yang lucunya, itu terjadi di tempat yang sama. Karena bingung dan entah sudah berapa kali mengalami hal ini, sayapun spontan menanyakan mengapa harganya berbeda, padahal saya membeli di tempat yang sama. “Kan udah malem dek..”, jawab sang penjual. Dan saya pun cuma bisa diam sambil mengucapkan salut dalam hati, “Cepet bisa bikin banyak rumah deh nih orang”.

Berbeda halnya dengan usaha-usaha lainnya. Jika harga malam itu biasanya lebih murah, tapi dalam hal ini keadaannya justru berbalik. Misalnya seperti warnet yang biasa saya kunjungi kalau bandwith saya sudah habis, kalau malam mereka memberikan potongan harga 50 persen dari tarif di waktu siang (tarif normal), atau tempat main Play Station langganan saya, mereka memberikan strategi harga yang cukup kreatif dari jam 00.00 s/d jam 07.00 hanya dengan Rp.15,000,- dengan fasilitas ruangan VIP saya bisa main PS sampai pagi, plus soft drink, serta dipijitin cewek cakep (halah, ngarang…!)

Kembali ke topik.. Secara kasat mata mungkin inilah perbedaan strategi penentuan harga untuk menjual produk dengan menjual jasa. Meskipun strategi ini juga bisa diterapkan bagi pedagang untuk mendapatkan keuntungan maksimal, tapi di lain hal, ini juga bisa menjadi pedoman untuk kita, bahwa kepastian/kestablilan harga yang saya sebut sebagai harga plin plan, ternyata memberikan pengaruh yang dahsyat terhadap kepuasan serta kontinuitas konsumen terhadap proses pembelian selanjutnya.

Dapat untung besar, tapi konsumen kabur kan jadi rugi juga. Jadi lebih baik untung kecil, tapi putaran penjualan barang kenceng. Cincai lah..

About Andy Febrian 532 Articles
Menyukai dunia web development, Wordpress lovers, writing dan blogging. Simple & apa adanya. Semoga tulisan di atas bermanfaat :)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*