Cerita Inspirasi Kisah si Pohon Apel

Cerita Inspirasi Kisah si Pohon Apel
Image source : treepicturesonline.com

Alkisah, hiduplah sebatang pohon Apel besar dan rimbun di pinggiran desa yang damai. Letaknya yang tersudut, namun lokasi di sekitarnya sangat nyaman dan tenang meskipun pohon Apel tersebut kokoh berdiri sendiri tanpa ada pohon besar lainnya disana.

Abdi, seorang anak kecil yang selalu riang gembira dan senang bermain pada pohon tersebut. Berlarian, tidur, memanjat, bahkan Abdi hampir setiap hari selalu memetik buah Apel yang ada di pohon tersebut. Kesehariannya, Abdi sering menghabiskan waktunya untuk bermain-main atau sekedar berteduh untuk istirahat di bawah rimbunnya pohon Apel tersebut.

Hari demi hari telah berlalu, Abdi perlahan mulai menyadari bahwa ternyata pohon Apel yang biasa menjadi tempat bersandar tersebut menyayangi dan mencintainya.

2 tahun berlalu, dan Abdi tidak lagi pernah bermain di pohon Apel itu. Abdi tidak pernah lagi menampakkan wajahnya yang riang untuk berteduh disana. Namun suatu hari, Abdi datang kembali namun hanya melintas di bawah pohon tersebut dengan wajah yang sedih.

“Kenapa wajahmu terlihat sedih? Ayo kita main lagi Abdi, aku sudah lama tidak bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu”, kata pohon Apel.

“Saya bukanlah anak-anak lagi seperti beberapa tahun lalu, karena itu saya tidak ingin bermain-main lagi denganmu. Saya ingin sekali punya mainan, karena itu saya butuh sekali uang agar saya dapat membeli mainan tersebut”, jawaban Abdi dengan nada terbata-bata.

“Maaf, saya pastinya tidak punya uang agar bisa membantu kamu membeli mainan, tetapi saya punya buah yang bisa kamu petik dan di jual supaya kamu bisa mendapatkan uang lalu membeli mainan yang kamu inginkan tersebut”, jawab pohon Apel.

Mendengar jawaban pohon Apel, Abdi sontak merasa senang sekali dan akhirnya ia memutuskan untuk memanjat dan memetik buahnya untuk di jual.

Namun yang terjadi setelah Abdi memetik semua buah yang ada, ia tak lagi pernah kembali mengunjungi si pohon Apel. Sehingga, akhirnya pohon Apel merasa sangat sedih.

8 tahun kemudian, Abdi telah masuk ke usia dewasa. Pohon Apel sangat gembira melihat Abdi yang terlihat akan menghampiri dirinya dari kejauhan.

Setelah Abdi berdiri tepat dekat dengannya, pohon Apel lalu berkata, “Dirimu sudah jauh berbeda, kau terlihat sangat dewasa sekarang. Ayo kita bermain lagi seperti dahulu ketika kau sering bermain denganku”.

Lalu Abdi menjawab, “Saya tidak punya banyak waktu untuk bermain lagi denganmu. Karena saya harus bekerja keras untuk keluarga saya, agar saya bisa punya uang untuk membeli tempat berteduh. Ya, karena itulah yang saya butuhkan saat ini”.

“Maaf, saya tidak dapat memberikan apa yang kamu pinta. Tetapi saya memiliki banyak cabang yang mungkin bisa kamu gunakan untuk membangun rumah, agar bisa menjadi tempat yang seperti kamu butuhkan saat ini, yaitu sebagai tempat berteduh bagi keluargamu”, kata si pohon.

Akhirnya, dengan perasaan senang Abdi memotong dahan demi dahan yang berukuran cukup besar agar bisa dijadikan bahan dalam membangun sebuah rumah kayu untuk keluarganya.

Setelah itu, Abdi tidak pernah kembali kepada pohon tersebut dan hal ini membuat si pohon bersedih karena merindukan Abdi.

10 tahun berlalu, suatu waktu di musim panas Abdi kembali mendatangi pohon Apel, spontan si pohon merasa sangat senang dan mengajaknya untuk bermain lagi.

Namun Abdi kembali menolak dan berkata, “Saya sudah mulai tua, dan ingin sekali bersantai dengan menghabiskan waktu berlayar. Dapatkah kau memberikan saya sebuah perahu?”.

“Gunakan saja batang inti saya untuk membuat sebuah perahu agar kamu bisa berlayar jauh dan merasa bahagia”, jawab si pohon.

Lalu, Abdi menebang pohon Apel tersebut dan membuat sebuah perahu. Dia berlayar dalam waktu lama.

Setelah bertahun-tahun pergi, Abdi kembali pada si pohon. Ketika si pohon melihat kedatangan Abdi, si pohon langsung berkata, “Maaf, saya tidak punya apa-apa lagi untukmu”.

“Saya juga sekarang tidak punya gigi untuk mengigit, tidak punya tulang yang kuat untuk memanjat, saya tidak lagi memiliki waktu untuk bermain denganmu karena saya sudah tua sekarang”, jawab Abdi.

Pohon lalu berkata, “Ya, saya memang tidak memiliki apa-apa lagi. Yang tersisa hanyalah sebuah akar tua yang telah sekarat”.

Sesaat kemudian, Abdi berkata, “Saya tidak memerlukan apa-apa saat ini selain tempat untuk dapat beristirahat. Saya merasa lelah setelah bertahun-tahun mengarungi kehidupan ini”.

Meskipun yang tersisa hanya tinggalah akar tua yang hampir mati, si pohon tetap tersenyum pada Abdi dan berkata, “Baiklah, akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Kemarilah, dan duduk bersamaku”.

Abdi akhirnya duduk dengan penuh senyum dan tangis yang bercampur dengan sedih dan bahagia.

Cerita inspiratif di atas menjadi sebuah gambaran yang sangat mengharukan. Ketika kita masih muda, terkadang kita sering menghabiskan waktu bermain bersama orang tua. Namun ketika kita tumbuh dewasa, kita pergi meninggalkan mereka, dan hanya datang kembali ketika kita membutuhkan bantuan. Karena itu, tidak ada orang lain yang rela mengorbankan apapun untuk kita (termasuk nyawa) selain orang tua kita.

Share and Enjoy

About Andy Febrian 529 Articles
Menyukai dunia web development, Wordpress lovers, writing dan blogging. Simple & apa adanya. Semoga tulisan di atas bermanfaat :)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*