Anak ayam termahal

Pernahkah anda membeli seekor anak ayam dengan harga Rp. 20.000,- (Dua Puluh Ribu Rupiah)?! Jika anda menganggap harga tersebut masih tergolong murah, tapi tidak bagi saya. Mengingat kondisi sebagai Anak Kost yang masih selalu teringat dan senyum-senyum sendiri dengan pengaruh harga mie beberapa waktu lalu, maka dari itu justru harga tersebut mahal bagi saya. Selain itu, anak ayam tersebut hanyalah seekor anak ayam biasa yang mungkin berumur sekitar satu minggu-an yang belum saya ketahui apakah jantan atau betina, sehat atau tidak. Karena, anak ayam itu dalam kondisi tidak bernyawa.

Tapi sebelumnya, jika anda memiliki atau sering memanfaatkan transportasi dengan kendaraan pribadi, mungkin anda pun berpeluang memiliki kejadian seperti ini jika anda tidak berhati-hati. Yup, menggilas binatang yang sedang menyeberang ternyata bisa berpeluang untuk menciptakan biaya tak terduga, apalagi jika binatang tersebut adalah peliharaan orang. Jika anda tidak bertanggung jawab, minimal bisa-bisa anda kena sumpahin oleh pemilik si korban karena anda dianggap telah melakukan kasus tabrak lari.

Beberapa hari yang lalu ketika saya pulang dari observasi di suatu tempat, dengan menggunakan sebuah transportasi antik (vespa) yang pernah menjadi idola di tahun 1960-an untuk melewati jalan kecil yang kondisinya menciptakan getaran yang lumayan bagi penumpang vespa yang agak ceper ini. Sebagai seorang yang di bonceng saya tidak tahu pasti bagaimana itu bisa terjadi, karena posisi saya sulit untuk bisa melihat bebas ke arah depan.

Yang saya tahu, seorang nenek-nenek berteriak memanggil kami. Mungkin karena merasa bersalah, atau mungkin bisa jadi karena terobsesi menjadi pengemudi yang patuh, teman saya (pengemudi) pun berhenti dan menghampiri nenek tersebut. Berniat ingin meminta maaf, tanpa basa basi si nenek sewot, “Ini gimana ceritanya nih?!? Ayam Emak mati tuh, kalo bawa motor hati-hati nak”. Kemudian terjadilah obrolan panjang tanpa disuguhkan minuman dingin atau kue kering.

Setelah cerita panjang lebar, ujung-ujungnya teman saya harus mengganti ayam tersebut. Tapi mungkin sebelumnya teman saya bingung mau ngasih berapa, dan ia pun bertanya kepada nenek tersebut, “Jadi saya ganti berapa nih nek?”. “Itu sih terserah aja, soalnya itu ayam cucu saya”, jawab si nenek. Saya pun spontan mengangkat alis & mengkrenyitkan jidat, dan tanpa pikir panjang teman saya langsung memberikan uang sejumlah 20rb. Kemudian setelah itu kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan. Tapi sebelum pergi, teman saya minta maaf kembali sambil berbasa basi semoga uangnya cukup untuk membayar kesalahannya. Yang bikin herannya, si nenek pun menjawab basa basi teman saya, “Iya, ini cukup kok. Nenek minta maaf juga kalo ada salah ya. Ini uangnya paling buat si Ben (cucu-nya) kalo dia nuntut ini nuntut itu. Padahal sih sebenarnya mahal tuh ayamnya. Seharusnya kan kalo ayam itu udah dewasa bisa bertelur, kemudian menetas, trus anaknya kan bisa bertelur dan menetas lagi.. bla..bla..bla..”, 🙄 tanpa pikir panjang saya pun memotong pembicaraan dan langsung segera pamit agar bisa segera pergi dari situ.

Mungkin bagi anda kejadian tersebut memang terkesan wajar-wajar saja, tapi setidaknya itu bisa menjadi sebuah cara ampuh cara memaksimalkan laba dengan memanfaatkan peluang. Ilustrasinya ya seperti kejadian tersebut, dengan melepaskan binatang peliharaan anda di jalanan depan rumah, trus kalau ada yang kegiling sama motor/mobil tinggal minta ganti rugi deh 👿

>> Jangan lupa untuk selalu berhati-hati ketika anda mengendarai kendaraan, terutama di daerah-daerah yang belum anda ketahui dengan pasti.


About Andy Febrian 532 Articles
Menyukai dunia web development, Wordpress lovers, writing dan blogging. Simple & apa adanya. Semoga tulisan di atas bermanfaat :)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*